Selasa, 19 Juni 2012

Bullying di Sekolah

Setiap hari ratusan (bahkan ribuan) anak Indonesia mengalami ketakutan untuk pergi ke sekolah. Di seluruh dunia, jutaan anak punya masalah dengan bullying di sekolahnya. Bullying adalah suatu masalah besar! Tidak hanya berdampak pada si anak yang mengalami bullying saja, tapi juga orang tua, guru, teman, dan lingkungan sekitarnya. Mengapa ?
Bullying sudah jelas, pasti menjadi problem psiko-sosial bagi si anak yang mengalaminya. Bullying kemungkinan besar akan luput dari pandangan orang tua, guru, atau orang dewasa lainnya. Mereka mungkin tidak akan memahami seberapa parah dampak bullying pada sang anak.
Apa sih bullying itu ? Secara definisi, bullying adalah suatu keadaan dimana seseorang “dikerjain” secara berulang-ulang oleh seorang atau sekelompok individu yang memiliki power yang berbeda. Yang saya maksud dengan “Power” di sini bisa berarti tenaga fisik atau posisi sosial (misalnya lebih kaya, lebih cantik, lebih bergengsi, dll).
Sedikitnya ada 2 masalah utama dibalik terjadinya bullying di sekolah : Penampilan dan Status sosial. Pelaku bullying (disebut “Bully”) selalu memilih target / korban dari kalangan teman yang menurut mereka tidak cocok untuk bergaul bersamanya, bisa karena penampilan, sifat (misalnya pemalu, pendiam), ras, agama, atau suku. Dan pilihan target akan jatuh pada individu yang menurut mereka inferior atau di bawah strata mereka.
Bullying dapat terjadi secara fisik, psikologis, verbal, maupun seksual. Secara fisik contohnya dengan dipukul, dicubit, didorong, dijegal, dll. Secara psikologis misalnya dipermalukan di depan umum, dipanggil dengan nama cemoohan, dihasut, difitnah, barang-barangnya disembunyikan, dll. Secara verbal contohnya dicaci maki langsung, diteror (baik melalui telepon, sms, atau email). Secara seksual bisa terjadi dari yang paling ringan dicolek-colek, sampai yang paling parah diperkosa.
Bila hanya terjadi satu atau dua kali memang tidak apa-apa. Tapi bila proses tersebut berulang terus-menerus, si korban bullying akan selalu berada dalam keadaan ketakutan yang konstan. Keadaan inilah yang secara psikologis berbahaya dan berpotensi menjadikan si anak memiliki kepribadian yang menyimpang. Anak akan berkembang menjadi pribadi yang tidak percaya diri, stress, depresi, cemas, bahkan secara statistik anak yang mengalami bullying pada masa sekolah berpotensi untuk melakukan bunuh diri. Seru kan ?
Belum lagi masalah fisiknya yang pasti akan ikut terganggu baik akibat bullying secara fisik (dipukul, ditendang, dll), maupun efek psikologis yang menjadi penyakit (dalam bahasa medis disebut Psiko-somatis); seperti sering sakit perut, gampang pusing, tidak nafsu makan, dan ujung-ujungnya gampang sakit.
Bullying adalah masalah besar. Bullying adalah kekerasan, yang akan semakin meningkat dengan berkembangnya usia si pelaku (Bully). Bukan berita baru bagi kita bila kita dengar ada anak yang meninggal di sekolah, meninggal di kampus, karena bullying atau orientasi yang berlebihan.
Bagi si pelaku bully. Statistik menyebutkan bahwa 1 dari 4 anak yang dulu melakukan bullying pada usia sekolah memiliki catatan kriminal sebelum mereka menginjak usia 30. Sebagian dari mereka menjalani hidupnya sebagai sampah masyarakat, terasing dari lingkungan dan teman-temannya, gagal merintis karir dalam hidupnya, atau bahkan gagal dalam hidupnya.
Ada banyak tanda yang bisa mengingatkan kita apakah anak kita terlibat bullying di sekolah atau tidak. Terlibat bisa berarti menjadi korban, atau bahkan menjadi pelaku bullying. Hal ini penting untuk kita ketahui, agar kita selaku orang tua (atau guru) dapat mengambil langkah yang diperlukan sedini mungkin.
Tanda-tanda Menjadi korban bullying :
  • Ada kerusakan atau kehilangan pakaian / bagian dari pakaian atau barang miliknya (peralatan sekolah, bekal, uang saku, dll)
  • Melaporkan kehilangan buku, peralatan elektronik, atau perhiasannya (termasuk jam tangan, anting, cincin, dll)
  • Memiliki jejas / luka / memar / lebam yang tidak bisa dijelaskan sebabnya
  • Sering mengeluh sakit kepala, sakit perut, mual, atau tidak enak badan, khususnya saat hendak berangkat sekolah
  • Kesulitan tidur, atau sering mimpi buruk, atau sering mengigau
  • Mengalami perubahan pola makan
  • Punya kecenderungan menyakiti diri sendiri
  • Melakukan atau punya kecenderungan untuk kabur dari rumah
  • Tidak punya teman / terkucil / tidak mau bicara kepada teman sekolahnya
  • Ketakutan untuk berangkat ke sekolah atau beraktivitas dengan temannya
  • Tampak sedih, marah, cemas, atau depresi ketika pulang dari sekolah
  • Membicarakan atau mengeluarkan ide tentang bunuh diri
  • Nilai raport dan prestasi sekolahnya menurun dan cenderung menjadi malas serta tidak bergairah belajar
  • Sering merasa tidak puas terhadap hidupnya
  • Tampak tidak percaya diri
  • Tiba-tiba temannya jadi sedikit
  • Berupaya untuk menghindar dari tempat tertentu
  • Bertingkah aneh yang berbeda dari biasanya
 Tanda-tanda orang yang melakukan bullying:
  • Menunjukkan sikap yang kasar terhadap orang lain
  • Mudah terlarut dalam perkelahian baik fisik maupun verbal (mudah mencaci atau memaki) kepada orang lain
  • Beberapa kali dipanggil ke BP di sekolahnya, meskipun ia tidak mengatakan penyebabnya
  • Mendapatkan skorsing dari sekolah
  • Tanpa ada penjelasan tiba-tiba memiliki uang lebih dari yang Anda berikan
  • Cenderung mudah untuk menyalahkan orang lain
  • Tidak mau menerima tanggung jawab dari perbuatannya
  • Memiliki teman yang melakukan bullying pada orang lain
  • Selalu ingin menang sendiri
 Nah, apakah tanda-tanda di atas ada? Bila ada, lakukan pendekatan yang tepat pada sang anak agar ia tidak tumbuh menjadi sosok depresif karena menjadi korban bullying, atau tumbuh menjadi kriminal karena melakukan bullying.
Masalah bullying ini menjadi sangat penting untuk kita atasi karena zaman sekarang ini anak sudah mendapatkan akses informasi yang lebih banyak dari zaman-zaman sebelumnya dengan adanya internet dan televisi di rumah kita, sehingga kecenderungan yang terbentuk pada masa kanak-kanak akan berkembang menjadi sebuah ide, berkembang menjadi sebuah sosok idola, berkembang lagi menjadi cita-cita, hingga akhirnya ia (sang anak) tumbuh dengan cita-cita tersebut. Sangat disayangkan bila buah hati kita tumbuh dengan cita-cita yang salah bukan ?
Jika ada anak bukan sebagai korban, namun dia melihat temannya diganggu dan menjadi korban, berilah pengertian bahwa kekerasan dalam bentuk apapun bukan hal yang baik untuk menyelesaikan masalah. Membiarkan hal itu terjadi sama dengan mengijinkan orang lain berlaku sewenang- wenang. Jika kita ingin diperlakukan dengan baik maka kita juga harus memperlakukan orang lain dengan baik, bukan memaksanya atau menempuh cara kekerasan.
Cara Mengatasi Bullying Di Sekolah
Upaya mencegah bullying di sekolah bisa dimulai dengan menciptakan budaya sekolah yang beratmosfer belajar tanpa rasa takut, melalui pendidikan karakter, menciptakan kebijakan pencegahan bullying di sekolah dengan melibatkan siswa, menciptakan sekolah model penerapan sistem anti-bullying, serta membangun kesadaran tentang bullying dan pencegahannya kepada stakeholders sampai ke tingkat rumah tangga dan tempat tinggal.
Menata lingkungan sekolah dengan baik, asri dan hijau sehingga anak didik merasa nyaman juga merupakan faktor yang sangat berpengaruh dan akan membantu untuk pencegahan. Sekolah sebaiknya mendukung kelompok-kelompok kegiatan agar diikuti oleh seluruh siswa. Selanjutnya sekolah menyediakan akses pengaduan atau forum dialog antara siswa dan sekolah, atau orang tua dan sekolah, dan membangun aturan sekolah dan sanksi yang jelas terhadap tindakan bullying.
Ratiyono mengemukakan dua strategi untuk mengatasi bullying yakni strategi umum dan khusus.
  1. Strategi umum dijabarkan dengan menciptakan kultur sekolah yang sehat. Ratiyono mendeskripsikan kultur sekolah sebagai pola nilai-nilai, norma, sikap, ritual, mitos dan kebiasaan-kebiasaan yang dibentuk dalam perjalanan panjang sekolah. Kultur sekolah dilaksanakan oleh warga sekolah secara bersama baik oleh kepala sekolah, guru, staf administrasi maupun siswa sebagai dasar dalam memahami dan memecahkan berbagai persoalan yang muncul.
  2. Sedangkan strategi khusus adalah mengidentifikasi faktor internal dan eksternal yang menyebabkan terjadinya tindakan bullying di lingkungan sekolah, aktifkan semua komponen secara proporsional sesuai perannya dalam menanggulangi perilaku bullying, susun program aksi penanggulangan bullying berdasarkan analisis menyeluruh dan melakukan evaluasi dan pemantauan secara periodik dan berkelanjutan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar